Senin, 17 Agustus 2015

Klaim Ayah Tewas dalam Ledakan Tianjin, Gadis China Raup Rp 194 Juta




Agen13 " Keterlaluan. Insiden ledakan dahsyat Tianjin, China dimanfaatkan segelintir orang untuk menipu. Seorang gadis 19 tahun di China meraup 90 ribu yuan atau setara Rp 194 juta dengan mengklaim ayahnya tewas dalam ledakan Tianjin.

Seperti dilansir AFP, Senin (17/8/2015), gadis bermarga Yang ini melakukan penipuan melalui media sosial China, Sina Weibo yang memang marak membahas insiden Tianjin. Awalnya, Yang mengklaim ayahnya hilang dalam ledakan yang terjadi pada 12 Agustus lalu.

Melihat follower Weibo-nya bertambah drastis usai klaim tersebut, Yang memposting klaim kedua yang menyebut ayahnya tewas akibat ledakan Tianjin. Postingan Yang itu menarik sekitar 3 ribu pengguna Weibo untuk menyumbangkan dana hingga 90 ribu Yuan kepada Yang, melalui platform media sosial.

Weibo memang baru-baru ini menambahkan fungsi 'reward' yang memperbolehkan pengguna Weibo untuk mentransfer uang kepada pengguna lainnya melalui media sosial. Tujuan utama fungsi ini adalah untuk menunjukkan apresiasi. Namun ternyata malah disalahgunakan oleh Yang. 

Yang tidak bisa mengambil uang sumbangan tersebut, karena rekeningnya dibekukan usai beberapa pengguna Weibo melaporkan akunnya yang mencurigakan. Dia ditahan kepolisian Fangchenggang di Guangxi, jauh dari Tianjin, akhir pekan lalu. Dia dijerat dakwaan penipuan oleh kepolisian setempat.

Sementara itu, otoritas China juga memberlakukan sistem penyensoranonline dan pembatasan bagi kritikan terhadap penanganan ledakan Tianjin. Total ada 50 situs yang ditutup atau ditangguhkan, karena dianggap memicu kepanikan publik.

"Memicu kepanikan dengan mempublikasikan informasi tidak resmi dan membiarkan pengguna (internet) menyebarkan rumor tak berdasar," demikian pernyataan Otoritas Dunia Maya China.

Kritikan terhadap otoritas setempat di media sosial juga diblokir, dengan sebanyak 360 akun media sosial ditangguhkan karena dianggap menyebar rumor tidak berdasar. Namun langkah otoritas setempat ini menuai kecaman dari media-media nasional China, yang didukung pemerintah pusat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar